Terletak di selatan Kota Bontang, pulau tersebut merupakan destinasi wisata. Letaknya berada di tengah-tengah selat Makasar. Disini, para nelayan tradisional membudidayakan rumput laut Pulau Tihi-Tihi dapat dijangkau dengan perahu dari Pelabuhan Tanjung Laut di Bontang selama sekitar 30 menit. Memasuki kampung Tihi-tihi kita disuguhi dengan pemandangan yang sangat indah, air yang jernih, ekosistem terumbu karang yang memukau dan pepohonan bakau yang terhampar luas, dari kejauhan kita juga bisa melihat industri gas dan tambang yang terus sibuk mengadakan eksplorasi. Sungguh bagian negeri yang kaya akan sumberdaya alam.
Kampung Tihi-tihi dibangun diatas laut, rumah-rumah yang terbuat dari kayu-kayu yang kuat dihubungkan satu dengan lainnya menggunakan jembatan kayu selebar 1,5 meter. Lingkungan yang bersih dan tertata rapi. Sebanyak kurang lebih 52 KK tinggal di pulau ini dan sepenuhnya bergantung pada sumberdaya laut, selain sebagai nelayan tripang, cumi2 dan ikan mereka juga aktif berbudidaya rumput laut. Setelah dari tahun 2019 tahun 2020 hingga saat ini kembali di Tahun 2021 LPB Pama Bessai berinta melakukan pendampingan budidaya pembibitan rumput laut di kampung nelayan Tihi-tihi untuk kesekian kalinya, permasalahan yang sama yang sering dirasakan petani rumput laut pada umumnya yaitu setiap pada awal musim tanam selalu terbatasnya jumlah bibit rumput laut dengan kualitas yang bagus. Kendala inilah yang ingin diatasi oleh LPB Pama Bessai Berinta melalui pendampingan pengembangan rumput laut dengan perawatan demplot percontohan pembibitan rumput laut yang ada di Kampung nelayan Tihi-tihi Bontang Kalimantan Timur.
Pendampingan pembibitan rumput laut ini di laksanakan pada Kamis, 24 Juni 2021 dengan pendamping Bapak Jafar selaku pendamping dari Dinas Perikanan Kota Bontang dan selaku Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kota Bontang, setiap bulannya di lakukan dua kali visit.
Pendampingan visit 1 di laksanakan pada tanggal 24 Juni 2021, pendampingan yang di lakukan adalah lebih ke cara penanganan rutin untuk penggantian tali, pengecekan bibit hingga pengecekan jalur bibit rumput laut . sehingga mengurangi resiko kegagalan dalam pencapaian hasil panen bibit rumput laut .
Pendampingan visit 2 hingga visit ke 5 akan dijadwalkan pada setiap bulan sekali Hingga saat ini perkembangan pengembangan bibit rumput laut yang berawal dari 11 jalur bibit rumput laut sekarang sudah tersebar hingga kurang lebih 150 jalur, dimana dulunya petani rumput laut di Kampung nelayan Tihi-tihi selalu kekurangan bibit bahkan membeli bibit dari luar sekarang sudah mampu menjual bibit hinggal luar kampung tihi-tihi yaitu Malahing, marangkayu dan petani rumput laut di Sangatta Kutai Timur.
Petani bibit rumput laut binaan LPB Pama Bessai Berinta sekarang sudah dapat menjual bibit dimana rata-rata perbulannya 25 jalur dengan pengahsilan kotor sebanyak Rp.12.500.000. harga bibit perjalurnya RP.500.000, panjang jalur 120 meter. Bibit hasil pengembangan sudah di pakai di kampung tihi-tihi kurang lebih 50% petani rumput laut Tihi-tihi yang terdiri dari 6 kelompok yaitu kelompok Tihi-tihi 2, Tihi-tihi 3, Usaha maju, Marendeng dan Kelompok Bahari Putra.
Dari hasil pendampingan ini pembibitan budidaya rumput laut sudah sangat baik. Dapat di lihat dari besar bibit dan jarak tanam, umumnya mereka semua menggunakan bibit diatas 200 gram/ikatan dengan jarak antar ikatan 20 cm dan jarak antar jalur 1-1,5 m. Sistem jangkar sangat sederhana, menggunakan patok kayu dengan kedalaman air sekitar 2 m pada saat surut terendah. Tali ikat menggunakan tali rafia dengan simpul hidup. Setelah dikurangi bibit, umumnya 1 jalur menghasilkan rata-rata 50 kg rumput laut kering.
Untuk urusan panen dan pasca panen, para petani di KMPUNG Tihi-tihi ini juga sudah menerapkan penanganan yang sangat baik, mereka dengan sabar melepas rumput laut dari ikatannya satu per satu, membersihkan tali dan kemudian mengikatkan kembali bibit di jalur yang kosong. Semua kegiatan ini dilakukan di laut. Penjemuran dilakukan di atas lantai jemur atau di halaman rumah. Jika matahari bersinar cerah memerlukan 4 hari untuk mengeringkan rumput laut, lebih lama karena batang rumput lautnya besar-besar seperti jahe. Umumnya pengumpul lokal di Tihi-tihi yang melakukan penyimpanan. Hasil produksi rumput laut kering dari Tihi-tihi kemudian dijual oleh pengumpul lokal ke pengumpul besar di Bontang.
Dengan melaksanakan kegiatan ini LPB Pama Bessai berinta beserta petani rumput laut binaan berharap agar permasalahan yang di hadapi pelaku usaha rumput laut saat ini sedikit demi sedikit dapat teratasi salah satunya ketersediaan bibit unggul. Dengan demikian, dengan adanyan demplot bibit rumput laut ini menjadikan role model untuk pembibtan rumput laut dengan baik dan benar.

